Menurut riset sebuah perusahaan, yang diperlukan pengguna Internet sebenarnya bukan kecepatan tinggi. Jadi apa dong yang di lakukan masyarakat Indonesia dengan Internet Broadband tersebut?
Menurut riset sebuah perusahaan, yang diperlukan pengguna Internet sebenarnya bukan kecepatan tinggi. Jadi apa dong yang di lakukan masyarakat Indonesia dengan Internet Broadband tersebut?
Menurut Yohanes Denny(Strategic Intelligence PT Nokia Siemens Networks), Internet broadband sudah sangat berefek dalam lifestyle karena efek dalam kehidupan pribadi adalah bisa menghemat uang dan meningkatkan kehidupan sosial pemakainya, namun untuk produktivitas masih kecil. Skrg ini beliau tengah memaparkan hasil riset penggunaan Internet Broadband di 15 negara, termasuk Indonesia. Dan riset itu mengungkapkan bahwa di tanah air kita ini, pemakaian Internet Broadband belum terlalu mempengaruhi produktivitas, kegiatan bisnis dan pemerintah, dan hanya lifestyle yang meningkat.
Dan kebanyakan pengguna dari Internet Broadband tersebut berasal dari kalangan anak-anak muda yang banyak menggunakannya di rumah, di sekolah, kafe internet, tempat-tempat umum atau dalam perjalanan. Dengan menggunakan perangkat seperti PC, Laptop/Notebook, Ponsel, sampai SmartPhone pun di gunakan untuk melancarkan urusan mobile network dan mereka pun bergantung pada perangkat-perangkat tersebut. Tidak heran sekarang ini akses Internet supercepat banyak di tawarkan oleh para operator telekomunikasi untuk mendominasi kegiatan pribadi penggunanya.
Para pengguna menyukai kepraktisan alias model bayar kalau pakai, mengakses aplikasi-aplikasi yang tidak menyedot bandwith, dan mobile sebagai gaya hidup, alias bersifat personal. Jadi yang di perlukan sekarang ini adalah solusi e-living yang tidak bisa lagi dipisahkan anatara browsing, e-mail, download, dll.
Sebenarnya para operator telekomunikasi harus menambahkan unsur "excitement" atau "Kenyamanan" dan bukan kecepatan saja yang ditawarkan. Kecepatan tinggi selama ini mampu mendukung kenyamanan berinternet yang sebenarnya hanya dipakai untuk bersantai.
Orang Indonesia puas menggunakan Internet. Tetapi tidak ada excitement karena (mereka) tidak merasa perlu atau tertarik dengan aplikasi-aplikasi yang menyedot banyak bandwitdh. Kebutuhan akan kecepatan tinggi itu hanyalah turunan dari faktor penting intensitas tinggi untuk mendukung kerja, belajar dan santai dengan bantuan internet.
Lalu berapa yang dianggap cepat? Ternyata batas toleransinya adalah 100Kbps, sementara yang disebut cepat adalah kecepatan di bawah 300Kbps.
Sangat disayangkan sikap operator yang sekarang ini memperlakukan broadband bak potongan-potongan kue yang pada akhirnya memunculkan keluhan bahwa mereka tidak untung dan harus memangkas bandwidth.
Operator sekarang ini harusnya berpikir lebih jauh untuk masuk ke e-living, e-education, e-health, e-commerce, e-government. Operator seharusnya lebih fokus ke pemakaian koneksi untuk meningkatkan berbagai aspek kehidupan. Operator harus bertransformasi dari pembagi kue menjadi customer data. Dengan menjual mobile voucher, operator dapat uang dari koneksi atau/dan sponsor, sedangkan pengguna dapat komunikasi gratis (biaya) atau bersubsidi. Karena bisnis ponsel sekarang ini sangat menjanjikan, sudah saat nya Indonesia masuk ke e-living dan semua industri harus berkolaborasi.
Minggu, 21 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar